Genre Sastra Klasik
GENRE SASTRA KLASIK
LAPORAN BACAAN MINGGU KE ENAM
GENRE SASTRA KLASIK
Nama :Nesa Yulia
Nim :21016159
Mata kuliah : Pengantar Pengkajian Kesusastraan
Dosen pengampu:Dr.Abdurrahman.M.Pd
1.PENDAHULUAN
Sastra merupakan karya yang indah yang dapat kita nikmati sebagai sebuah hiburan dan juga sebagai dunia pendidikan. Dengan demikian sastra berfungsi untuk menuangkan pikiran dan perasaan kita dan juga kita dapat mengetahui atau membaca pikiran dan perasaan orang lain melalui karyanya. Sastra di Indonesia mengalami perkembangan dari masa ke masa sehingga kita kenal dengan sastra klasik (lama).
Dalam setiap pembelajaran sastra sejak dulu hingga sekarang selalu menjadi permasalahan tentu saja permasalahan yang bersifat klasik. Sastra mendorong seorang untuk menerapkan moral baik dan luhur dalam kehidupan dan menyadarkan manusaia akan tugas dan kewajiban sebagai mahkluk tuhan,mahluk sosial dan memiliki kepribadaian yang luhur.
Kehidupan masyarakat tidak dapat terlepas sastra sebagai subjek meter dalam menciptakan suatu karya sastra. Realitas yang ada pada masyarakat tertentu akan dituangkan dalam bentuk cerita,puisi maupun dalam sastra lainya.
Bagaimanapun juga masyarakat juga merupakan faktor yang terpenting atau utama tentang keberadaan sastra. Keberhasilan sebuah sastra tidak dilihat dari sejauhmana karya itu dibaca oleh masyarakat akan tetapi sejauh mana sastra itu berpengaruh bagi zaman.
2.PEMBAHASAN
A. Genre Sastra Klasik Nusantara
Sastra klasik, sastra lama atau sastra tradisional, adalah karya sastra yang tercipta dan berkembang sebelum masuknya unsur-unsur modernisme ke dalam sastra itu.
Sastra (sanskerta, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa sanskerta sastra, yang berarti “Teks” yang mengandung instruksi” atau “ pedoman”, dari kata dasarnya sas yang berarti “ intruksi” atau “ ujaran”. Dalam bahasa Indoneisa kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada “kesustraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata “sastra” bisa juga merujuk kepada semua jenis tulisan. Jadi sastra adalah karya yang bersifat indah dan memiliki nilai ajaran yang baik. Dalam hal itu sastra dapat dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral).
Dengan demikian sastra tidak hanya berhubungan dengan tulisan akan tetapi dengan bahasa yang menjadi wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu.Sastra Melayu klasik memeliki heterogenitas dalam sisi fungsional terhadap para pembaca. Dalam kesusastraan melayu klasik terjadi sebuah perkembangan sastra yang cukup pesat. Diantara beberapa karya sastra melayu klasik yang dapat digolongkan dalam lingkup faedah adalah dari beberapa genre sastra sebagai berikut : hikayat berbingkai, hikayat bahtiar, hikayat pelanduk jenaka, karya sastra tersebut bertujuan untuk membimbing tingkah laku orang melayu secara benar. Ada tiga aspek yang bisa dibedakan dari masing-masing karya sastra ditinjau dari aspek resepsinya terhadap pembaca.
B.KARAKTERISTIK SASTRA KLASIK NUSANTARA
Ciri umum pada Sastra melayu klasik :
1. mayoritas hasil sastranya merupakan saduran atau terjemahan dari sastra Arab dan Parsi, biasanya dikerjakan oleh ulama Nusantara yang belajar ke mekkah, atau pedagang yang telah menetap lama di Nusantara.
2. kebanyakan tidak menyebutkan tanggal, waktu, maupun pengarangnya, hal inilah yang menjadi kendala dalam merekonstruksinya dari awal sampai akhir. Tetapi, sastra tersebut masih dapat diidentifikasi lewat huruf, gaya bahasa, dan latar kejadian.
3. karya sastra melayu klasik yang muncul pada zaman kesultanan ini umumnya membawa corak Tasawuf, al-Attas (1972) menyatakan bahwa dalam karya-karya mereka, Islam yang dihadirkan adalah Islam yang ditafsirkan mengikuti konsep-konsep Metafisika dan Teologi Sufi.
4. Bersifat lisan.
5. Bersifat istana sentris, bersumber dari kehidupan istana atau para raja.
6. Penyebarannya secara lisan.
C.CONTOH TEKS/LISAN SASTRA KLASIK NUSANTARA
1. Talibun
sejenis puisi lama seperti pantun karena mempunyai sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.
Contoh :
jalan-jalan membeli celana
celana dibeli model terkini
kubawanya dengan erat
kini engkau jauh di sana
sedih terasa hati ini
menahan rindu begitu berat
2. Karmina
jenis pantun singkat yang terdiri hanya 2 baris saja. Pantun karmina berpola a-a.
contoh :
pohon jati burung dara
hati-hati banyak bicara
3.Stanza
Stanza adalah sajak delapan seuntai yang setiap baitnya terdiri atas delapan buah kalimat. Stanza disebut juga oktaf. Persajakan stanza atau oktaf tidak berurutan.
Contoh stanza:
PERTANYAAN ANAK KECIL
Hai kayu-kayu dan daun-daunan!
Mengapakah kamu bersenang-senang?
Tertawa-tawa bersuka-sukaan?
Oleh angin dan tenang, serang?
Adakah angin tertawa dengan kami?
Bercerita bagus menyenangkan kami?
Aku tidak mengerti kesukaan kamu!
Mengapa kamu tertawa-tawa?
Hai kumbang bernyanyi-nyanyi!
Apakah yang kamu nyanyi-nyanyikan?
Bunga-bungaan kau penuhkan bunyi!
Apakah yang kamu bunyi-bunyikan?
Bungakah itu atau madukah?
Apakah? Mengapakah? Bagaimanakah?
Mengapakah kamu tertawa-tawa?
4.Seloka
Seloka merupakan bentuk puisi Melayu Klasik, berisikan pepetah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran bahkan ejekan. Biasanya ditulis empat baris memakai bentuk pantun atau syair, terkadang dapat juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.
• Contoh seloka 4 baris:
anak pak dolah makan lepat,
makan lepat sambil melompat,
nak hantar kad raya dah tak sempat,
pakai sms pun ok wat ?
• Contoh seloka lebih dari 4 baris:
Baik budi emak si Randang
Dagang lalu ditanakkan
Tiada berkayu rumah diruntuhkan
Anak pulang kelaparan
Anak dipangku diletakkan
Kera dihutan disusui.
5.Bidal
Bidal adalah kalimat singkat yang mengandung pengertian atau kiasan dan membayangkan sindiran.
a). Contoh Bidal Ungkapan
• Tangan panjang artinya suka mencuri
• Ringan tangan artinya suka membantu
• Besar kepala artinya sombong
b). Contoh Bidal Pepatah
• Anjing menyalak tidak menggigit artinya mulut besar tetapi penakut.
• Besar pasak daripada tiang artinya besar pengeluaran dari pendapatan.
c). Contoh Bidal Perumpamaan
• Bagai durian dengan mentimun artinya orang kecil melawan orang besar pasti akan kalah.
• Seperti kerbau di cocok hidung artinya orang yang bodoh selalu menurut perintah orang lain.
d). Contoh Bidal Tamzil
• Ada ubi ada talas, ada budi ada balas
e). Contoh Bidal Ibarat
• Bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak hendak
• Ibarat bunga, segar dipakai layu dibuang
f). Contoh Bidal Kata arif
• Senangkanlah hatimu dengan menyenangkan hati orang lain.
g). Contoh Bidal Pameo
• Sekali merdeka tetap merdeka.
6.Pantun
Ciri-cirinya sebagai berikut:
1. Terdiri atas 4 baris
2. Tiap baris terdiri atas 8 sampai 12 suku kata.
3. Dua baris pertama disebut sampiran, dan dua baris berikutnya disebut isi pantun.
4. Pantun mementingkan rima akhir dengan pola /abab/.Bunyi akhir baris pertama sama dengan bunyi akhir baris ketiga dan baris kedua sama dengan baris keempat.
Contoh Pantun:
Sikap sinohong
Gelana ikan duri
Bercakap bohong
Lama-lama mencuri
Gunung Daik timang timangan
Tempat kera berulang ali
Budi yang baik kenang-kenangan
Budi yang jahat buang sekali
7.Cerita asal- usul ( Legenda)
Secara garis besar cerita asal usul, terbagi dalam 3 jenis, yakni sebagai berikut:
1. Cerita asal usul dunia tumbuh-tumbuhan.
2. Cerita asal usul dunia binatang.
3. Cerita asal usul terjadinya suatu tempat.
Dan masih banyak lagi contoh karya sastra klasik lainnya.
D.SITUASI BAHASA GENRE SASTRA KLASIK NUSANTARA
Sastra Melayu atau Kesusastraan Melayu adalah sastra yang hidup dan berkembang di kawasan Melayu. Sastra Melayu mengalami perkembangan dan penciptaan yang saling mempengaruhi antara satu periode dengan periode yang lain. Situasi masyarakat pada jaman sebelum Hindu, jaman Hindu, jaman peralihan dari Hindu ke Islam, dan jaman Islam, berpengaruh kuat pada hasil-hasil karya sastra Melayu. Terjadi hubungan yang erat antara tahap perkembangan, kehadiran genre, dan faktor lain di luar karya sastra.
Sastra Melayu berkembang pesat pada jaman Islam dan sesudahnya, karena tema-tema yang diangkat seputar kehidupan masyarakat Melayu, meskipun beberapa ada pengaruh asing. Sebelum jaman Islam, konteks penceritaannya lebih berorientasi ke wilayah di luar Melayu, yaitu India dengan latar belakang kebudayaan Hindu.
Yang dimaksud dengan Sastra Melayu Klasik adalah sastra yang hidup dan berkembang di daerah Melayu pada masa sebelum dan sesudah Islam hingga mendekati tahun 1920-an di masa Balai Pustaka. Masa sesudah Islam merupakan zaman dimana sastra Melayu berkembang begitu pesat karena pada masa itu banyak tokoh Islam yang mengembangkan sastra Melayu.
Kesusastraan Melayu sebelum Islam tidak ada nuansa Islam sama sekali dan bentuknya adalah sastra lisan. Isi dan bentuk sastranya lebih banyak bernuansa animisme, dinamisme, dan Hindu-Budha, dan semua hasil karya tersebut dituangkan dalam bentuk prosa dan puisi. Untuk puisi, tampak tertuang ke dalam wujud pantun, peribahasa, teka-teki, talibun, dan mantra. Bentuk yang terakhir ini (mantra), sering dikenal dengan jampi serapah, sembur, dan seru. Sedangkan bentuk prosa, tampak tertuang dalam wujud cerita rakyat yang berisi cerita-cerita sederhana dan berwujud memorat (legenda alam gaib yang merupakan pengetahuan pribadi seseorang), fantasi yang berhubungan dengan makhluk-makhluk halus, hantu dan jembalang.
Perkembangan kesusastraan Melayu sesudah kedatangan Islam ditandai dengan penggunaan Huruf Arab yang kemudian disebut Tulisan Jawi atau Huruf Jawi, yang dalam perkembangannya dikenal dengan istilah Arab Melayu. Hal ini dikarenakan masyarakat Melayu merasa bahwa tulisan tersebut telah menjadi milik dan identitasnya. Huruf Jawi ini diperkenalkan oleh para pendakwah Islam untuk membaca al-Qur`an dan menelaah berbagai jenis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Perkembangan penulisan ini sangat pesat karena Islam memperbolehkan semua orang untuk menulis dalam berbagai bidang.
3.PENUTUP
Sastra Melayu klasik memeliki heterogenitas dalam sisi fungsional terhadap para pembaca. Dalam kesusastraan melayu klasik terjadi sebuah perkembangan sastra yang cukup pesat.
Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai, sastra adalah
sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. Kamil ebih suka menyebut sejumlah faktor yang dewasa ini mendorong para pembaca untuk menyebut teks ini sastra dan teks ini bukan sastra.
Dan masih banyak lagi contoh dari karya sastra klasik seperti,pantun, gurindam, syair, karmina, hikayat, legenda, fabel, dongeng, cerita berbingkai, cerita rakyat, cerita lisan dan epos.
4.DAFTAR PUSTAKA
http://sitinurakidah311.blogspot.com/2016/03/karya-sastra-modern-dan-klasik.html?m=1
https://majalahpendidikan.com/contoh-sastra-melayu-klasik/
http://bambangp682.blogspot.com/2013/03/sastra-klasik.html?m=1